MAKALAH HADITS
MANISNYA IMAN
DOSEN PENGAMPU : NURUL AENI,
SHI, MSI
RAKHELL NANDA SYAFITRI
151200151
PROGRAM STUDI
PGMI
SEKOLAH TINGGI ILMU AGAMA
ALMA ATA
2015 / 2016
JL.Ringroad Barat Daya No. 1 Tamantirto Yogyakarta
Website : www.almaata.ac.id
Phone : (0274) 434 2288,4342270
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahi
rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah SWT Pencipta dan Pemelihara Alam Semesta.
Shalawat serta salam mudah-mudahan selalu
tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Agung Muhammad SAW yang mana
beliaulah yang telah membawa umatnya dari jurang-jurang kemungkaran dan
kemunafikan menuju bukit yang penuh
dengan sinar keimanan Islam.
Sehingga saya dapat menyelesaikan tugas pembuatan makalah mata kuliah
“Al
Hadits” dengan judul “Manisnya
Iman ”. Atas dukungan moral dan materi yang di berikan dalam
penyusunan makalah ini, maka saya mengucapkan terima kasih kepada Ibu Nurul Aeni, SHI, MSI , selaku dosen pengampu
saya, yang telah memberikan dorongan dan
masukan kepada saya.
Saya
sadar bahwa makalah ini belum sempurna, oleh karena itu saran dan kririk yang
membangun dari rekan-rekan sangat di butuhkan untuk penyempurnaan makalah ini.
Yogyakarta, 23 September 2015
Penyusun
RAKHELL NANDA SYAFITRI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Syahadat merupakan pintu masuk dalam Islam. Syahadat
ibarat sebuah kunci yang bergerigi. Untuk dapat masuk Islam, seseorang harus mengucapkan
dua kalimat syahadat, yaitu laa ilaaha illallah dan Muhammadurrasuulullah.
Dengannya, seseorang bisa mendapatkan semua yang dijanjikan Allah SWT, baik
berupa diterimanya amal di dunia hingga pahala yang melimpah ruah di akhirat
kelak, tentu saja dengan niat ikhlas karena Allah. Sebagus apapun amalan
seseorang, jika tidak pernah mengucapkan syahadat, maka
amalannya akan sia-sia.[1]
Sebagai contoh adalah
amalan Abu Thalib. Beliau sangat baik, membela dan melindungi dakwah
Rasulullah, tetapi Abu Thalib tidak pernah mengucapkan syahadat. Pada saat
detik-detik kematian Abu Thalib, Rasulullah berusaha memohonkan ampunan kepada
Allah untuk dirinya, namun turun ayat Q.S. At Taubah ayat 113, yang melarang
orang beriman memohonkan ampunan bagi orang musyrik.
Orang yang sudah masuk
Islam, berarti ia juga harus beriman dan bersedia melaksanakan konsekuensi dari
keislaman dan keimanannya. Akan tetapi, dalam kenyataannya masih banyak orang
yang masih enggan melaksanakan konsekuensi keislaman dan keimanan itu, serta
belum mampu merasakan manisnya iman itu. Oleh karena itu, makalah ini akan mmbahas
tentangnya.
B. Rumusan Masalah
1.
Apa itu iman ?
2.
Penjelasan hadits
Bukhari no. 16?
3.
Bagaimana cara
seseorang dapat merasakan manisnya iman?
C. Tujuan
1.
Mengetahui dan memahami pengertian iman.
2.
Mengetahui dan memahami hadits Bukhari no. 16
3.
Mengetahui dan memahami cara agar dapat merasakan manisnya
iman.
BAB II PEMBAHASAN
I.
Pengertian Iman
Secara bahasa kata
“iman” berakar dari bahasa Arab “amuna” yang asalnya dari kata “al
amnu” yang artinya aman, sentosa. Kata tersebut menurunkan kata “al
amanah” yang artinya dipercaya, jujur, dan “al iiman” yang artinya percaya.[2]
Sedangkan secara
istilah, banyak definisi tentang iman. Di antaranya, yang disebutkan dalam buku Tauhid Pokja Akademik UIN Sunan
Kalijaga, pertama dari kamus Ta’rifat, iman berarti membenarkan dalam
hati, meyakini dalam hati, dan mengucapkan atau mengikrarkan dengan lisan.
Kedua, dari kitab Fatch al Bariy bi Syarchi Shachih al Buchariy, Ibnu
Chajar al Asqalany menyatakan bahwa iman adalah membenarkan rasul dengan segala
apa yang datang dari Tuhannya. Dalam buku Thabaqat al Chanabilah karya
Muhammad bin abi Ya’la Abi Chusain disebutkan bahwa iman adalah membenarkan apa yang telah digambarkan atau
dideskripsikan oleh Allah tentang diri-Nya, atau tentang rasul-rasul-Nya,
dengan tidak perlu pembahasan, tidak perlu dibantah, dan tidak perlu
dipersoalkan, tidak ada penyerupaan, perumpamaan, serta tidak perlu ditafsirkan
dan dita’wilkan. Abu Ja’far al Razi menyatakan bahwa iman adalah membenarkan (tashdiq).
Mu’ammar al Raziy menyatakan bahwa iman adalah perbuatan (al ‘amal).
Menurut Ibnu Anas, iman adalah takut (khasyyah). Sedangkan Ibnu Jarir
mengatakan bahwa iman adalah orang-orang yang percaya terhadap yang ghaib, baik
secara lisan, keyakinan, dan perbuatannya, dan termasuk di dalamnya adalah rasa
takut kepada Allah dan membenarkan secara lisan maupun perbuatan.[3]
Jadi, dapat disimpulkan bahwa iman itu tidak cukup hanya dengan meyakini dalam
hati atau mengucapkan dengan lisan saja, tetapi iman itu meliputi tiga hal, yaitu
diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan dibuktikan dengan amal
perbuatan.[4]
II.
Hadits Bukhari no.16
عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم –
قَالَ ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ
وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ
يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا
يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ
Dari Anas, dari Nabi
SAW beliau bersabda: “Tiga hal, barangsiapa memilikinya maka ia akan merasakan
manisnya iman (yaitu) menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya,
mencintai seseorang semata-mata karena Allah, dan benci kembali kepada
kekufuran sebagaimana bencinya ia jika dilempar ke dalam api neraka.”[5]
Penjelasan Hadits
Tiga hal, barangsiapa
memilikinya maka ia akan merasakan manisnya iman
Dalam hadits ini
dipakai istilah (manisnya iman). Dalam ilmu balaghah, istilah seperti ini
disebut isti’arah takhyiliyyah, yaitu majaz (kiasan) yang dibangun dari tasybih
(penyerupaan) imajinasi. Semacam majas metafora dalam bahasa Indonesia. Bahwa
iman itu terasa manis.
Menurut Ibnu Hajar
Al-Asqalani dalam Fathul Bari, ini mengindikasikan bahwa tidak semua
orang bisa merasakannya. Sebagaimana manisnya madu hanya akan dirasakan oleh
orang yang sehat, sedangkan orang yang sakit kuning tidak mampu merasakan
manisnya. Demikian pula manisnya iman. Ia hanya didapatkan oleh orang-orang
yang imannya “sehat”. Diantaranya adalah yang memenuhi kriteria yang disebutkan
dalam hadits diatas.
Manisnya iman juga mengingatkan kita ibarat pohon, iman itu memiliki buah manisnya bisa
dirasakan oleh seorang mukmin. Tentu saja pohon baru bisa berbuah ketika
akarnya teguh dan pohonnya kuat. Jadi ia tidak mudah dirasakan oleh setiap
orang.
Sebagian ulama
menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan manisnya iman merasakan lezatnya
ketaatan dan memiliki daya tahan menghadapi rintangan dalam menggapai ridha
Allah, lebih mengutamakan ridha-Nya dari pada kesenangan dunia, dan merasakan
lezatnya kecintaan kepada Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi
larangan-Nya.
1. menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari
selainnya[6]
Inilah hal pertama yang
membuahkan manisnya iman: mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi selainnya.
Seorang mukmin haruslah menyempurnakan cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya,
baru ia mendapati manisnya iman. Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya tidak cukup
hanya sekedarnya, tetapi harus melebihi dari yang selainnya.
Manusia akan merasakan
kebahagiaan besar ketika sedang mencintai. Maka manisnya iman menjadi buah yang
dirasakan seorang mukmin ketika ia mencintai Allah dan Rasul-Nya dengan
sempurna. Inilah yang menjelaskan mengapa Bilal sanggup menahan panasnya pasir
dan terik surya, beratnya batu yang menindihnya, serta hinaan menyakitkan
Umayyah dan kawan-kawannya. Dalam kondisi demikian, Bilal tetap melantunkan
manisnya iman melalui lisannya: “ahad, ahad…”
Manisnya iman buah
cinta ini pula yang membuat Khabab bin Al Art seakan tak merasakan luka-luka
menganga di tubuhnya yang disalib. Maka ketika diminta pendapatnya bagaimana
jika Rasulullah yang menggantikannya, ia menjawab dalam nada manisnya iman:
“Bahkan aku tak rela jika kaki Rasulullah tertusuk duri”
Dalam manisnya iman
pula, sahabat-sahabat Ansar rela pulang tangan kosong tanpa ghanimah dalam
Perang Hunain. Isak tangis mengharu biru ketika mereka tersadar bahwa
Rasulullah hendak meneguhkan Islam para muallaf Makkah. Sementara mereka pulang
membawa Rasulullah, biarlah orang lain pulang membawa unta dan kambing.
2. Dan mencintai seseorang semata-mata karena Allah[7]
Jika kecintaan kepada
Allah adalah yang pertama dan tidak boleh terkalahkan oleh selainnya, demikian
pula Rasulullah sebagai manusia yang paling dicintai, bukan berarti kita tidak
diperkenankan mencintai sesama. Cinta itu fitrah manusia. Maka mencintai kedua
orang tua, anak, saudara, sahabat, dan sesama mukmin juga dibutuhkan. Dan
tatkala cinta itu karena Allah semata, maka iman akan manisnya iman akan bisa
dirasakan.
Generasi pertama umat
ini adalah generasi yang sukses dalam membina cinta karena Allah ini. Maka
dengan cinta lillah, suku Aus dan Khazraj yang semula bermusuhan menjadi
bersaudara di bawah satu bendera: Ansar. Pada saat itu, mereka merasakan
manisnya iman. Lalu, muhajirin dan anshar yang belum pernah bersua pun,
tiba-tiba menjadi saling berbagi. Membagi harta menjadi dua, membagi kebun dan
rumah agar bisa sama-sama hidup layak dalam perjuangan bersama. Pada saat itu,
mereka merasakan manisnya iman.
Jika dua hal yang
pertama adalah pekerjaan mencintai, hal ketiga yang membawa manisnya iman ini
adalah pekerjaan sebaliknya: membenci. Yakni membenci kekufuran. Khususnya
kekufuran yang telah ditinggalkannya dan diganti dengan Islam.
3. Dan benci kembali kapada kekufuran setelah
diselamatkan oleh Allah, sebagaimana kebenciannya dilempar ke dalam api neraka [8]
Dan itulah yang,
lagi-lagi, kita dapati pada generasi sahabat Nabi. Maka ketika Sayyid Quthb
memotret tiga karakter sahabat yang menjadi faktor utama keberhasilan mereka, salah satunya ia
catat: “Saat mereka masuk Islam dan mendapat Al-Qur’an seketika mereka melepas
seluruh kejahiliyahan”
Rasulullah SAW dalam
berbagai kesempatan juga mengingatkan para sahabat agar jangan sampai kembali
kepada kejahiliyahan, meskipun hanya sebagian sifatnya. Maka Rasulullah
mengingatkan kaum Anshar ketika hampir saja mereka bermusuhan kembali antara suku Aus dan Khazraj seperti perang
bu’ats. Rasulullah juga pernah mengingatkan
Abu Dzar tatkala berselisih dengan Bilal
lalu mencelanya dengan nada sentimen kesukuan. “Sungguh dalam dirimu ada
perilaku jahiliyah” tegur Rasulullah yang selalu dikenang Abu Dzar. Dan sejak saat itu
ia lebih mencintai dan menghormati Bilal.
III.
Cara agar Dapat Merasakan Manisnya Iman
Iman merupakan pokok akidah Islam. Keimanan seseorang bisa mengalami
fluktuasi. Kadang iman itu bisa naik dan bisa turun. Naik karena melakukan
ketaatan, turun ketika melakukan maksiat. Iman seseorang akan bertambah
tergantung pada pengikraran hati, ketenangan dan kemantapannya.
Untuk mendapatkan manisnya iman, seseorang harus memberikan kecintaannya kepada Allah dan Rasulullah
dengan senantiasa menyempurnakan cintanya, mengembangkan hingga ke
cabang-cabangnya, dan melawan hal-hal yang bertentangan dengannya. Seseorang
akan merasakan manisnya iman apabila di dalam hatinya terdapat cinta yang
mendalam kepada Allah dan Rasul-Nya. Manisnya iman akan semakin dirasakan
apabila berusaha menyempurnakan cintanya kepada Allah, memperbanyak
amalan-amalan yang dicintai Allah, dan menangkis hal-hal yang bertentangan
dengan kecintaan Allah SWT.
Kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya harus lebih diprioritaskan daripada godaan dunia dengan ridha kepada Allah sebagai Tuhannya, Islam
sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai Rasulnya. Untuk dapat mencintai Allah dan
Rasulullah, maka seseorang harus mengenal Allah (ma’rifatullah) dan
mengenal Rasul (ma’rifaturrasul) dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya
seperti yang telah dijelaskan di atas dan juga mengembangkan pada cabang-cabang
yang lain seperti iman kepada kitab-kitab Allah, malaikat-malaikat-Nya, Hari
Akhir, dan Takdir Allah. Jika seseorang sudah merasakan manisnya iman, ia akan menikmati ketaatan kepada Allah bahkan
menikmati berbagai beban berat di jalan Allah.
BAB III PENUTUP
Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa iman itu tidak cukup hanya
dengan meyakini dalam hati atau mengucapkan dengan lisan saja, tetapi iman itu meliputi tiga hal,
yaitu diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan dibuktikan dengan amal
perbuatan. Iman merupakan hal pokok dalam akidah. Rukun iman itu terdiri atas iman kepada malaikat, iman kepada kitab-kitab
Allah, iman kepada nabi dan rasul, iman
kepada hari akhir, dan iman kepada takdir Allah. Cara agar seseorang dapat
merasakan manisnya iman yaitu dengan memberikan kecintaannya kepada Allah dan Rasulullah
dengan senantiasa menyempurnakan cintanya, mengembangkan hingga ke
cabang-cabangnya, dan melawan hal-hal yang bertentangan dengannya. Seseorang
akan merasakan manisnya iman apabila di dalam hatinya terdapat cinta yang
mendalam kepada Allah dan Rasul-Nya. Manisnya iman akan semakin dirasakan
apabila berusaha menyempurnakan cintanya kepada Allah, memperbanyak
amalan-amalan yang dicintai Allah, dan menangkis hal-hal yang bertentangan dengan
kecintaan Allah SWT. Bukti bahwa seseorang telah merasakan manisnya iman adalah
bahwa ia akan selalu mengutamakan
kecintaannya kepada Allah daripada mementingkan kesenangan dan kemegahan dunia.
Ia tidak mencintai hal-hal lain melebihi cintanya kepada Allah. Memprioritaskan kecintaan kepada Allah akan melahirkan perasaan ridha Allah sebagai Tuhannya, Islam
sebagai agamanya, dan Nabi Muhammad sebagai Nabi dan Rasulnya. Ia akan
memurnikan rasa takut hanya kepada Allah.
DAFTAR PUSTAKA
______, Electronic Book Materi Tarbiyah, www.muchlisin.co.cc
http://www.aswanblog.com/2013/07/penjelasan-hadits-tentang-manisnya-iman.html
LIDWA Kitab Hadits 9 Imam
Musthofa, dkk. 2005. Tauhid. Yogyakarta : Pokja Akademik UIN Sunan
Kalijaga.
[2] Musthofa, dkk,
Tauhid, (Yogyakarta : Pokja akademik UIN Sunan Kalijaga, 2005), hal 10.
[3] Musthofa, dkk,
Tauhid, (Yogyakarta : Pokja akademik UIN Sunan Kalijaga, 2005), hal
10-11.
[4] Ibid, hal
12
[5] LIDWA Kitab
Hadits 9 Iman.
[6] http://www.aswanblog.com/2013/07/penjelasan-hadits-tentang-manisnya-iman.html,/ 29 September
2015, 17.00.
[7] http://www.aswanblog.com/2013/07/penjelasan-hadits-tentang-manisnya-iman.html,/ 29 September
2015, 17.00.
[8] http://www.aswanblog.com/2013/07/penjelasan-hadits-tentang-manisnya-iman.html,/ 29 September
2015, 17.00.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar