Sabtu, 03 Oktober 2015

makalah hadits manisnya iman semester 1



MAKALAH HADITS
MANISNYA IMAN
DOSEN PENGAMPU :  NURUL AENI, SHI, MSI


RAKHELL NANDA SYAFITRI
151200151
PROGRAM STUDI PGMI
SEKOLAH TINGGI ILMU AGAMA
ALMA ATA
2015 / 2016

JL.Ringroad Barat Daya No. 1 Tamantirto Yogyakarta
Phone : (0274) 434 2288,4342270



KATA PENGANTAR

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah SWT Pencipta dan Pemelihara Alam Semesta. Shalawat serta salam mudah-mudahan  selalu tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Agung Muhammad SAW yang mana beliaulah yang telah membawa umatnya dari jurang-jurang kemungkaran dan kemunafikan  menuju bukit yang penuh dengan sinar keimanan Islam.
 Sehingga saya dapat menyelesaikan tugas pembuatan makalah mata kuliah “Al Hadits” dengan judul “Manisnya Iman ”.  Atas dukungan  moral dan materi yang di berikan dalam penyusunan  makalah ini,  maka saya  mengucapkan terima kasih kepada  Ibu Nurul Aeni, SHI, MSI , selaku dosen pengampu  saya, yang telah memberikan dorongan dan masukan kepada saya.
Saya sadar bahwa makalah ini belum sempurna, oleh karena itu saran dan kririk yang membangun dari rekan-rekan sangat di butuhkan untuk penyempurnaan makalah ini.

Yogyakarta, 23 September 2015

Penyusun


RAKHELL NANDA SYAFITRI


BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Syahadat  merupakan pintu masuk dalam Islam. Syahadat ibarat sebuah kunci yang bergerigi. Untuk dapat masuk Islam, seseorang  harus  mengucapkan dua kalimat  syahadat,  yaitu laa ilaaha illallah dan Muhammadurrasuulullah. Dengannya, seseorang bisa mendapatkan semua yang dijanjikan Allah SWT, baik berupa diterimanya amal di dunia hingga pahala yang melimpah ruah di akhirat kelak, tentu saja dengan niat ikhlas karena Allah. Sebagus apapun amalan seseorang, jika tidak pernah mengucapkan syahadat, maka amalannya akan sia-sia.[1]
Sebagai contoh adalah amalan Abu Thalib. Beliau sangat baik, membela dan melindungi dakwah Rasulullah, tetapi Abu Thalib tidak pernah mengucapkan syahadat. Pada saat detik-detik kematian Abu Thalib, Rasulullah berusaha memohonkan ampunan kepada Allah untuk dirinya, namun turun ayat Q.S. At Taubah ayat 113, yang melarang orang beriman memohonkan ampunan bagi orang musyrik.
Orang yang sudah masuk Islam, berarti ia juga harus beriman dan bersedia melaksanakan konsekuensi dari keislaman dan keimanannya. Akan tetapi, dalam kenyataannya masih banyak orang yang masih enggan melaksanakan konsekuensi keislaman dan keimanan itu, serta belum mampu merasakan manisnya  iman  itu. Oleh karena itu, makalah ini akan mmbahas tentangnya.
B.     Rumusan Masalah
1.              Apa itu iman ?
2.              Penjelasan hadits Bukhari  no. 16?
3.              Bagaimana cara seseorang dapat merasakan manisnya iman?
C.    Tujuan
1.              Mengetahui dan  memahami pengertian iman.
2.              Mengetahui dan  memahami hadits Bukhari no. 16
3.              Mengetahui dan  memahami cara agar dapat merasakan manisnya iman.












BAB II PEMBAHASAN

I.                   Pengertian Iman
Secara bahasa kata “iman” berakar dari bahasa Arab “amuna” yang asalnya dari kata “al amnu” yang artinya aman, sentosa. Kata tersebut menurunkan kata “al amanah” yang artinya dipercaya, jujur, dan “al iiman” yang artinya percaya.[2]
Sedangkan secara istilah, banyak definisi tentang iman. Di antaranya, yang disebutkan dalam  buku Tauhid Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga, pertama dari kamus Ta’rifat, iman berarti membenarkan dalam hati, meyakini dalam hati, dan mengucapkan atau mengikrarkan dengan lisan. Kedua, dari kitab Fatch al Bariy bi Syarchi Shachih al Buchariy, Ibnu Chajar al Asqalany menyatakan bahwa iman adalah membenarkan rasul dengan segala apa yang datang dari Tuhannya. Dalam buku Thabaqat al Chanabilah karya Muhammad bin abi Ya’la Abi Chusain disebutkan bahwa iman adalah  membenarkan apa yang telah digambarkan atau dideskripsikan oleh Allah tentang diri-Nya, atau tentang rasul-rasul-Nya, dengan tidak perlu pembahasan, tidak perlu dibantah, dan tidak perlu dipersoalkan, tidak ada penyerupaan, perumpamaan, serta tidak perlu ditafsirkan dan dita’wilkan. Abu Ja’far al Razi menyatakan bahwa iman adalah membenarkan (tashdiq). Mu’ammar al Raziy menyatakan bahwa iman adalah perbuatan (al ‘amal). Menurut Ibnu Anas, iman adalah takut (khasyyah). Sedangkan Ibnu Jarir mengatakan bahwa iman adalah orang-orang yang percaya terhadap yang ghaib, baik secara lisan, keyakinan, dan perbuatannya, dan termasuk di dalamnya adalah rasa takut kepada Allah dan membenarkan secara lisan maupun perbuatan.[3] Jadi, dapat disimpulkan bahwa iman itu tidak cukup hanya dengan meyakini dalam hati atau mengucapkan dengan lisan saja, tetapi iman itu meliputi tiga hal, yaitu diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan dibuktikan dengan amal perbuatan.[4]
II.                Hadits Bukhari no.16
عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ
Dari Anas, dari Nabi SAW beliau bersabda: “Tiga hal, barangsiapa memilikinya maka ia akan merasakan manisnya iman (yaitu) menjadikan  Allah  dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya, mencintai seseorang semata-mata karena Allah, dan benci kembali kepada kekufuran sebagaimana bencinya ia jika dilempar ke dalam api neraka.”[5]


Penjelasan Hadits        
Tiga hal, barangsiapa memilikinya maka ia akan merasakan manisnya iman
Dalam hadits ini dipakai istilah (manisnya iman). Dalam ilmu balaghah, istilah seperti ini disebut isti’arah takhyiliyyah, yaitu majaz (kiasan) yang dibangun dari tasybih (penyerupaan) imajinasi. Semacam majas metafora dalam bahasa Indonesia. Bahwa iman itu terasa manis.
Menurut Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari, ini mengindikasikan bahwa tidak semua orang bisa merasakannya. Sebagaimana manisnya madu hanya akan dirasakan oleh orang yang sehat, sedangkan orang yang sakit kuning tidak mampu merasakan manisnya. Demikian pula manisnya iman. Ia hanya didapatkan oleh orang-orang yang imannya “sehat”. Diantaranya adalah yang memenuhi kriteria yang disebutkan dalam hadits diatas.
Manisnya iman juga mengingatkan kita ibarat pohon, iman itu memiliki buah manisnya bisa dirasakan oleh seorang mukmin. Tentu saja pohon baru bisa berbuah ketika akarnya teguh dan pohonnya kuat. Jadi ia tidak mudah dirasakan oleh setiap orang.
Sebagian ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan manisnya iman merasakan lezatnya ketaatan dan memiliki daya tahan menghadapi rintangan dalam menggapai ridha Allah, lebih mengutamakan ridha-Nya dari pada kesenangan dunia, dan merasakan lezatnya kecintaan kepada Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
1.     menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya[6]
Inilah hal pertama yang membuahkan manisnya iman: mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi selainnya. Seorang mukmin haruslah menyempurnakan cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya, baru ia mendapati manisnya iman. Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya tidak cukup hanya sekedarnya, tetapi harus melebihi dari yang selainnya.
Manusia akan merasakan kebahagiaan besar ketika sedang mencintai. Maka manisnya iman menjadi buah yang dirasakan seorang mukmin ketika ia mencintai Allah dan Rasul-Nya dengan sempurna. Inilah yang menjelaskan mengapa Bilal sanggup menahan panasnya pasir dan terik surya, beratnya batu yang menindihnya, serta hinaan menyakitkan Umayyah dan kawan-kawannya. Dalam kondisi demikian, Bilal tetap melantunkan manisnya iman melalui lisannya: “ahad, ahad…”
Manisnya iman buah cinta ini pula yang membuat Khabab bin Al Art seakan tak merasakan luka-luka menganga di tubuhnya yang disalib. Maka ketika diminta pendapatnya bagaimana jika Rasulullah yang menggantikannya, ia menjawab dalam nada manisnya iman: “Bahkan aku tak rela jika kaki Rasulullah tertusuk duri”
Dalam manisnya iman pula, sahabat-sahabat Ansar rela pulang tangan kosong tanpa ghanimah dalam Perang Hunain. Isak tangis mengharu biru ketika mereka tersadar bahwa Rasulullah hendak meneguhkan Islam para muallaf Makkah. Sementara mereka pulang membawa Rasulullah, biarlah orang lain pulang membawa unta dan kambing.
2.     Dan mencintai seseorang semata-mata karena Allah[7]
Jika kecintaan kepada Allah adalah yang pertama dan tidak boleh terkalahkan oleh selainnya, demikian pula Rasulullah sebagai manusia yang paling dicintai, bukan berarti kita tidak diperkenankan mencintai sesama. Cinta itu fitrah manusia. Maka mencintai kedua orang tua, anak, saudara, sahabat, dan sesama mukmin juga dibutuhkan. Dan tatkala cinta itu karena Allah semata, maka iman akan manisnya iman akan bisa dirasakan.
Generasi pertama umat ini adalah generasi yang sukses dalam membina cinta karena Allah ini. Maka dengan cinta lillah, suku Aus dan Khazraj yang semula bermusuhan menjadi bersaudara di bawah satu bendera: Ansar. Pada saat itu, mereka merasakan manisnya iman. Lalu, muhajirin dan anshar yang belum pernah bersua pun, tiba-tiba menjadi saling berbagi. Membagi harta menjadi dua, membagi kebun dan rumah agar bisa sama-sama hidup layak dalam perjuangan bersama. Pada saat itu, mereka merasakan manisnya iman.
Jika dua hal yang pertama adalah pekerjaan mencintai, hal ketiga yang membawa manisnya iman ini adalah pekerjaan sebaliknya: membenci. Yakni membenci kekufuran. Khususnya kekufuran yang telah ditinggalkannya dan diganti dengan Islam.
3.     Dan benci kembali kapada kekufuran setelah diselamatkan oleh Allah, sebagaimana kebenciannya dilempar ke dalam api neraka [8]
Dan itulah yang, lagi-lagi, kita dapati pada generasi sahabat Nabi. Maka ketika Sayyid Quthb memotret tiga karakter sahabat yang menjadi faktor  utama keberhasilan mereka, salah satunya ia catat: “Saat mereka masuk Islam dan mendapat Al-Qur’an seketika mereka melepas seluruh kejahiliyahan”
Rasulullah SAW dalam berbagai kesempatan juga mengingatkan para sahabat agar jangan sampai kembali kepada kejahiliyahan, meskipun hanya sebagian sifatnya. Maka Rasulullah mengingatkan kaum Anshar ketika hampir saja mereka bermusuhan  kembali  antara suku Aus dan Khazraj seperti perang bu’ats.  Rasulullah  juga  pernah  mengingatkan  Abu Dzar tatkala berselisih dengan Bilal lalu mencelanya dengan nada sentimen kesukuan. “Sungguh dalam dirimu ada perilaku jahiliyah” tegur  Rasulullah  yang  selalu dikenang Abu Dzar. Dan sejak saat itu ia lebih mencintai dan menghormati Bilal.


III.             Cara agar Dapat Merasakan Manisnya Iman
Iman merupakan pokok akidah Islam. Keimanan seseorang bisa mengalami fluktuasi. Kadang iman itu bisa naik dan bisa turun. Naik karena melakukan ketaatan, turun ketika melakukan maksiat. Iman seseorang akan bertambah tergantung pada pengikraran hati, ketenangan dan kemantapannya.
Untuk mendapatkan manisnya iman, seseorang harus memberikan  kecintaannya kepada Allah dan Rasulullah dengan senantiasa menyempurnakan cintanya, mengembangkan hingga ke cabang-cabangnya, dan melawan hal-hal yang bertentangan dengannya. Seseorang akan merasakan manisnya iman apabila di dalam hatinya terdapat cinta yang mendalam kepada Allah dan Rasul-Nya. Manisnya iman akan semakin dirasakan apabila berusaha menyempurnakan cintanya kepada Allah, memperbanyak amalan-amalan yang dicintai Allah, dan menangkis hal-hal yang bertentangan dengan kecintaan Allah SWT.
Kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya harus lebih diprioritaskan daripada  godaan dunia dengan  ridha kepada Allah sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad  sebagai  Rasulnya. Untuk dapat mencintai Allah dan Rasulullah, maka seseorang harus mengenal Allah (ma’rifatullah) dan mengenal Rasul (ma’rifaturrasul) dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya seperti yang telah dijelaskan di atas dan juga mengembangkan pada cabang-cabang yang lain seperti iman kepada kitab-kitab Allah, malaikat-malaikat-Nya, Hari Akhir, dan Takdir Allah. Jika seseorang sudah merasakan manisnya iman, ia  akan menikmati ketaatan kepada Allah bahkan menikmati berbagai beban berat di jalan Allah.
























BAB III PENUTUP

Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa iman itu tidak cukup hanya dengan meyakini dalam hati atau mengucapkan dengan  lisan saja, tetapi iman itu meliputi tiga hal, yaitu diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan dibuktikan dengan amal perbuatan. Iman merupakan hal pokok dalam akidah. Rukun  iman itu terdiri atas iman  kepada malaikat, iman kepada kitab-kitab Allah, iman kepada nabi dan  rasul, iman kepada hari akhir, dan iman kepada takdir Allah. Cara agar seseorang dapat merasakan manisnya iman yaitu dengan memberikan  kecintaannya kepada Allah dan Rasulullah dengan senantiasa menyempurnakan cintanya, mengembangkan hingga ke cabang-cabangnya, dan melawan hal-hal yang bertentangan dengannya. Seseorang akan merasakan manisnya iman apabila di dalam hatinya terdapat cinta yang mendalam kepada Allah dan Rasul-Nya. Manisnya iman akan semakin dirasakan apabila berusaha menyempurnakan cintanya kepada Allah, memperbanyak amalan-amalan yang dicintai Allah, dan menangkis hal-hal yang bertentangan dengan kecintaan Allah SWT. Bukti bahwa seseorang telah merasakan manisnya iman adalah bahwa ia akan selalu  mengutamakan kecintaannya kepada Allah daripada mementingkan kesenangan dan kemegahan dunia. Ia tidak mencintai hal-hal lain melebihi cintanya  kepada Allah. Memprioritaskan  kecintaan kepada Allah akan melahirkan  perasaan ridha Allah sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya, dan Nabi Muhammad sebagai Nabi dan Rasulnya. Ia akan memurnikan rasa takut hanya kepada Allah.





















DAFTAR PUSTAKA

______, Electronic Book Materi Tarbiyah, www.muchlisin.co.cc

http://www.aswanblog.com/2013/07/penjelasan-hadits-tentang-manisnya-iman.html

LIDWA Kitab  Hadits 9  Imam

Musthofa, dkk. 2005. Tauhid. Yogyakarta : Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga.                                                     



[1] ______, Electronic Book Materi Tarbiyah, www.muchlisin.co.cc
[2] Musthofa, dkk, Tauhid, (Yogyakarta : Pokja akademik UIN Sunan Kalijaga, 2005), hal 10.
[3] Musthofa, dkk, Tauhid, (Yogyakarta : Pokja akademik UIN Sunan Kalijaga, 2005), hal 10-11.
[4] Ibid, hal 12
[5] LIDWA Kitab Hadits 9 Iman.